TIMES BLITAR, BLITAR – Pada peresmian Gedung PCNU Kota Semarang pada Sabtu (24/1/2026), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan sebuah langkah strategis bagi organisasi NU yang berusia lebih dari satu abad ini.
Sebagai organisasi dengan jumlah pengikut yang terus berkembang, Gus Yahya menegaskan bahwa pengelolaan NU tak lagi bisa hanya mengandalkan cara manual.
Untuk itu, PBNU tengah mengembangkan platform digital dan kecerdasan buatan (AI) yang nantinya dapat diadopsi hingga tingkat ranting, menjadi tonggak perubahan menuju tata kelola yang lebih profesional dan responsif terhadap kebutuhan zaman.
Maksud Terdasar Pernyataan Gus Yahya
Pernyataan Gus Yahya merupakan bentuk kesadaran akan tantangan yang dihadapi NU sebagai organisasi massa yang memiliki jangkauan luas di seluruh Indonesia.
Dengan jumlah pengikut yang terus bertambah, sistem pengelolaan manual yang selama ini berjalan mulai menunjukkan keterbatasan, seperti proses yang lambat, risiko kesalahan data, sulitnya koordinasi antar tingkatan kepengurusan, serta kurangnya akses yang merata terhadap informasi dan layanan.
Pengembangan platform digital dan AI bertujuan untuk mengatasi berbagai kendala tersebut. Platform digital akan menjadi pusat integrasi data dan layanan yang menghubungkan semua tingkatan NU, mulai dari pusat hingga ranting.
Sementara AI akan dimanfaatkan untuk mengoptimalkan proses, seperti analisis data kader, prediksi kebutuhan masyarakat, pengelolaan sumber daya, serta pelayanan kepada jamaah. Dengan demikian, NU dapat bekerja lebih efisien, transparan, dan mampu menjawab tantangan serta peluang di era digital.
Gus Yahya juga menekankan bahwa adopsi platform ini hingga tingkat ranting menjadi penting, karena ranting merupakan ujung tombak NU yang paling dekat dengan masyarakat. Dengan memiliki akses yang sama terhadap sistem digital, setiap tingkat kepengurusan dapat bekerja secara sinkron, mempercepat aliran informasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada umat.
Mengapa Transformasi Digital Sangat Penting Bagi NU?
Pertama, skala organisasi yang besar menjadi alasan utama. NU memiliki jutaan pengikut dan ribuan unit kepengurusan di seluruh pelosok negeri. Pengelolaan data kader, program kerja, dan sumber daya secara manual akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga, serta rentan terhadap kesalahan.
Dengan platform digital dan AI, data dapat diintegrasikan dan diolah secara cepat, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat dan tepat waktu.
Kedua, kebutuhan akan profesionalisme dan transparansi. Di era yang semakin menghargai akuntabilitas, organisasi keagamaan juga perlu menunjukkan tata kelola yang baik.
Platform digital dapat menjadi sarana untuk mencatat dan melacak setiap aktivitas serta penggunaan sumber daya, sehingga meningkatkan transparansi bagi seluruh komponen NU dan masyarakat umum.
Ketiga, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Masyarakat kini semakin terhubung secara digital dan menginginkan akses layanan yang cepat dan mudah.
Dengan mengembangkan platform digital, NU dapat menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda, serta menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin melalui kanal yang sesuai dengan gaya hidup mereka.
Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Bahkan Joko Widodo saat masih menjadi Presiden ke 7 dulu pernah menyatakan dukungannya terhadap digitalisasi NU sebagai bagian dari upaya konsolidasi kekuatan bangsa.
Hal senada juga diungkapkan mantan Menkominfo Budi Arie Setiadi. Dia menegaskan bahwa "Indonesia digital hanya terwujud jika NU sudah digital".
Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital NU bukan hanya kepentingan internal organisasi, tetapi juga berkontribusi pada perkembangan nasional.
Implementasi di Tingkat Lokal: Dari Pusat ke Ranting
Untuk memastikan platform digital bisa menjangkau hingga tingkat ranting, PBNU telah menetapkan beberapa langkah strategis:
- Pelatihan Khusus:
Setiap PCNU (Pengurus Cabang) dan MWC (Pengurus Majelis Wakil Cabang ) hingga ranting NU, mendapatkan pelatihan intensif tentang penggunaan platform digital dan AI.
Misalnya di Kota Semarang, setelah peresmian gedung baru, PCNU langsung melaksanakan lokakarya bagi pengurus ranting untuk mengenal fitur-fitur dasar seperti pencatatan kehadiran kader, pelaporan program kerja, dan akses informasi materi dakwah secara daring.
- Infrastruktur Pendukung:
PBNU bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pihak swasta untuk meningkatkan akses internet di daerah-daerah terpencil.
Di beberapa wilayah di Jawa Timur dan Sumatera Selatan, telah dibangun "Ruang Digital NU" di kantor ranting yang dilengkapi komputer dan koneksi internet stabil, agar pengurus dan masyarakat bisa memanfaatkan platform dengan mudah.
- Adaptasi Lokal:
Meskipun sistem intinya sama, setiap tingkat kepengurusan bisa menambahkan fitur yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Contohnya di daerah pesisir, ranting NU mengembangkan fitur pelaporan kondisi pantai dan bantuan bagi nelayan yang terhubung dengan platform pusat.
Contoh Produk Digital NU yang Sudah Beroperasi
Beberapa produk digital NU sudah mulai berjalan dan memberikan manfaat nyata:
- Single NU ID:
Sudah digunakan oleh lebih dari 2 juta kader di seluruh Indonesia.Dengan satu identitas digital ini, kader bisa mendaftar ke berbagai kegiatan NU, mengakses materi pelatihan, dan melihat riwayat partisipasi mereka secara online. Di Jawa Tengah,
Single NU ID juga diintegrasikan dengan program bantuan sosial NU bagi masyarakat kurang mampu.
- NU Digital Dakwah:
Platform ini menyediakan konten dakwah berupa video ceramah, artikel, dan podcast dari para ulama NU.
Kontennya tidak hanya tentang agama, tapi juga kesehatan, ekonomi keluarga, dan kebijakan publik. Hingga kini, sudah ada lebih dari 50 ribu konten yang bisa diakses secara gratis, dan banyak digunakan oleh pengurus ranting untuk kegiatan pengajian rutin.
- Sistem Manajemen Zakat dan Infaq NU:
Platform digital ini memungkinkan masyarakat untuk menyumbang zakat, infak, dan sedekah secara daring, serta melihat bagaimana dana tersebut digunakan.
Di beberapa daerah, sistem ini juga bisa melacak distribusi bantuan hingga ke penerima akhir, sehingga meningkatkan transparansi dan kepercayaan masyarakat.
- AI untuk Analisis Masalah Masyarakat:
Di Provinsi Banten (termasuk Tangerang), tim teknis NU sudah menggunakan AI untuk menganalisis keluhan dan kebutuhan masyarakat yang masuk melalui platform digital.
Hasil analisisnya membantu pengurus NU menyusun program kerja yang lebih tepat sasaran, seperti program bantuan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu dan pelatihan keterampilan bagi pemuda.
Inovasi dan Motivasi dalam Transformasi Digital NU
Dalam mengembangkan platform digital dan AI, PBNU telah merancang beberapa produk unggulan sebagai bagian dari ekosistem digitalnya, seperti Single NU ID yang menjadi identitas tunggal untuk mengakses seluruh layanan digital NU, sistem kaderisasi yang mengelola data dan aktivitas kader secara menyeluruh, serta digitalisasi persuratan untuk mempercepat proses administrasi.
Inovasi lainnya adalah pemanfaatan AI untuk berbagai keperluan, seperti analisis sentimen masyarakat terhadap program NU, pengoptimalan rencana kerja berdasarkan data historis, serta pendeteksian potensi masalah yang mungkin muncul di masyarakat. Dengan teknologi ini, NU dapat menjadi lebih proaktif dalam memberikan solusi dan pelayanan kepada umat.
Motivasi utama di balik transformasi digital ini adalah kesejahteraan umat dan perjuangan NU yang terus relevan. Gus Yahya menegaskan bahwa transformasi digital bertujuan untuk mewujudkan tata kelola profesional, pelayanan prima, dan jamaah yang berdaya.
Dengan menjadi organisasi yang modern dan adaptif, NU diharapkan dapat terus menjalankan perannya sebagai perekat sosial, penjaga toleransi, serta agen perubahan yang positif bagi bangsa dan negara.
Selain itu, transformasi digital juga menjadi cara untuk menghadirkan nilai-nilai NU yang luhur kepada lebih banyak orang, terutama generasi muda yang merupakan harapan masa depan bangsa.
Dengan menyajikan konten dan layanan yang menarik melalui platform digital, NU dapat menarik minat dan partisipasi generasi muda dalam berbagai aktivitas organisasi, sehingga memastikan kelangsungan dan perkembangan NU ke depannya.
Wallahu A'lam Bisshawab
***
*) Oleh : Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan. Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Imam Kusnin Ahmad |
| Editor | : Ronny Wicaksono |