https://blitar.times.co.id/
Berita

Iran Ingatkan Akan Terjadi Perang Regional Bila AS Lakukan Agresi

Senin, 02 Februari 2026 - 17:29
Iran Ingatkan Akan Terjadi Perang Regional Bila AS Lakukan Agresi Amerika Serikat terus mengancam kemungkinan perang terhadap Iran. Ayatollah Seyyed Ali Khamenei memperingatkan perang bisa meluas menjadi perang regional.(FOTO: Tehran Times)

TIMES BLITAR, JAKARTA – Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei memperingatkan, jika Amerika Serikat melakukan agresi, maka akan merembet menjadi perang regional.

Hingga akhir Januari 2026, Amerika Serikat telah mengerahkan angkatan lautnya secara besar-besaran dan terlihat jelas di dekat Iran.

Hal itu oleh Presiden Donald Trump digambarkan sebagai "armada besar". Pengerahan itu termasuk kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perusak menyusul ketegangan hebat antara Amerika Serikat dan Iran.

"AS harus tahu bahwa jika mereka memulai perang baru, kali ini akan menjadi perang regional," kata Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Minggu saat menerima sekelompok orang dari berbagai lapisan masyarakat di Imam Khomeini Hussainiya pada hari pertama perayaan Sepuluh Hari Fajar.

Selama pertemuan tersebut, seperti dilansir Mehr News Agency, Ayatollah Khamenei membahas perkembangan terkini, dan mengatakan bahwa Amerika Serikat harus waspada karena perang regional akan pecah jika Washington memulai perang lain.

"Bukan hal baru jika mereka terkadang berbicara tentang perang, pesawat, kapal, dan semua itu. Di masa lalu, Amerika telah berulang kali mengancam dan mengatakan bahwa semua opsi ada di meja perundingan, termasuk opsi perang," tegasnya seraya menambahkan bahwa rakyat Iran tidak akan terpengaruh oleh ancaman-ancaman ini.

"Republik Islam Iran tidak akan memulai serangan terhadap negara manapun, tetapi bangsa Iran akan memberikan pukulan keras terhadap siapa pun yang menyerangnya," tegas Ayatollah Khamenei.

Ia mengatakan bahwa masalah konfrontasi antara Amerika dan Iran bisa disimpulkan dalam dua kalimat: Amerika ingin melahap Iran dan bangsa Iran yang bijaksana serta Republik Islam merupakan penghalangnya.

Pemimpin Revolusi Islam itu mengidentifikasi alasan utama di balik konfrontasi selama 47 tahun antara Iran dan Amerika Serikat karena ambisinya ingin mendominasi Iran dan ada perlawanan bangsa Iran terhadap ambisi tersebut.

"Selama lebih dari tiga puluh tahun, Amerika berada di Iran. Mereka memiliki sumber daya, mereka memiliki minyak, mereka memiliki politik, mereka memiliki keamanan, mereka memiliki koneksi dengan dunia, mereka memiliki segalanya. Mereka melakukan apa pun yang mereka mau. Sekarang mereka ingin kembali ke situasi yang sama seperti era Pahlavi.

"Tetapi kali ini ini bangsa Iran berdiri teguh melawan mereka," tegasnya.

Mengenang penyambutan publik besar-besaran yang bersejarah terhadap Imam Khomeini saat kembali ke Iran, Ayatollah Khamenei mengatakan bahwa pendiri Republik Islam itu memasuki Teheran dengan keberanian meskipun menghadapi ancaman dan segera mengumumkan berakhirnya monarki, menjadikan dukungan rakyat sebagai fondasi sistem politik baru.

Ia menyoroti dua karakteristik utama Republik Islam: mengganti pemerintahan otokratis dengan pemerintahan rakyat dan membalikkan arah anti-agama rezim sebelumnya demi proses Islam. Ia mencatat bahwa meskipun terdapat kekurangan, negara tersebut secara keseluruhan telah membuat kemajuan dalam memperkuat kerangka kerja keagamaan dan Islamnya.

Ayatollah Khamenei mengatakan bahwa mengembalikan negara kepada pemiliknya yang sah yakni rakyat dan memutus pengaruh AS di Iran sangat mengguncang Washington dan menandai awal permusuhannya terhadap bangsa Iran.

Ia menekankan bahwa Imam Khomeini membangkitkan kembali kepercayaan diri nasional, menggantikan mentalitas "kita tidak bisa" dengan "kita bisa," dan membalikkan puluhan tahun penghinaan dan ketergantungan yang dialami di bawah dinasti-dinasti sebelumnya.

Merujuk pada pencapaian ilmiah dan teknologi Iran, Pemimpin Tertinggi itu mengatakan bahwa kemajuan tersebut dulunya tak terbayangkan dan merupakan hasil dari kepercayaan diri dan harapan baru yang ditanamkan dalam diri bangsa. 

Ia menolak klaim bahwa pemuda Iran kekurangan harapan atau masa depan, dengan menyatakan bahwa kaum muda Iran memiliki tekad dan optimisme serta akan membentuk masa depan negara tersebut.

Di bagian lain pidatonya, ia menggambarkan kerusuhan baru-baru ini sebagai ulah Amerika Setikat dan Israel, dengan mengatakan bahwa kerusuhan tersebut terdiri dari para pemimpin terlatih, beberapa diantaranya telah mengaku menerima dana dan instruksi dan para pemuda hanya menuruti emosinya.

Dia mengatakan bahwa pernyataan presiden Amerika Serikat yang secara terbuka mendorong kerusuhan adalah bukti jelas keterlibatan asing, dan mencatat bahwa jutaan orang yang berunjuk rasa di seluruh negeri adalah perwakilan sejati rakyat Iran.

Pemimpin Tertinggi menekankan bahwa permusuhan terhadap Iran akan terus berlanjut selama jalan kemerdekaan Republik Islam bertentangan dengan kepentingan kekuatan global, dan menambahkan bahwa insiden serupa dapat terulang dimasa mendatang. 

Dia juga mengatakan bahwa meskipun pasukan keamanan telah menjalankan tugasnya, kehadiran masyarakatlah yang pada akhirnya mengakhiri kerusuhan, seperti yang terlihat pada peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Pemimpin tersebut menekankan bahwa tujuan utama kerusuhan itu adalah untuk melemahkan keamanan nasional, dan menegaskan bahwa tanpa keamanan, tidak mungkin ada kemajuan ekonomi, ilmiah, atau sosial.

Ia menyimpulkan bahwa akar penyebab permusuhan Amerika Serikat karena keinginannya untuk mendominasi Iran dan sumber dayanya, hak asasi manusia hanyalah dalih semata. Ayatollah Khamenei memperingatkan setiap tindakan permusuhan akan ditanggapi dengan tegas, menambahkan bahwa perang di masa depan pasti akan berskala regional. (*)

Pewarta : Widodo Irianto
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Blitar just now

Welcome to TIMES Blitar

TIMES Blitar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.