Kopi Arbilest Blitar, Dari Lereng Doko Menuju Pasar Global Lewat Fermentasi Anaerob
Kopi Arbilest Blitar mengembangkan fermentasi anaerob pada biji kopi premium di Desa Resapombo, Doko. Inovasi ini menghadirkan cita rasa unik sekaligus menggerakkan wisata edukasi dan ekonomi warga desa.
BLITAR – Di lereng Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, aroma kopi tak hanya menjadi penanda hangatnya secangkir minuman, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi desa. Rumah produksi Kopi Arbilest Blitar di Desa Resapombo menghadirkan inovasi fermentasi anaerob pada biji kopi pilihan, sebuah metode pascapanen yang mampu meningkatkan nilai jual kopi hingga menembus pasar internasional.
Di balik pengembangan kopi premium tersebut, ada sosok Aris Setyono, pendiri Kopi Arbilest Blitar. Ia mengembangkan metode fermentasi menggunakan potongan buah asli untuk menciptakan karakter rasa yang lebih kompleks dan khas. Teknik ini menghasilkan profil rasa buah yang lebih kuat pada setiap seduhan kopi.
Proses inovasi tersebut tidak berjalan instan. Berbagai tahapan uji coba dilakukan secara teliti demi menjaga konsistensi kualitas produk. Dinas Pertanian Blitar turut memberikan pendampingan kepada kelompok tani, mulai dari pengolahan pascapanen hingga pengendalian hama perkebunan.
Pemerintah daerah juga membantu proses legalitas usaha, mulai sertifikasi halal hingga hak kekayaan intelektual. Dukungan tersebut mempermudah produk kopi lokal menembus pasar global.

Seorang pengunjung sedang belajar proses pengolahan biji Kopi Arbilest Blitar (FOTO: Abimanyu Satrio Widodo/TIMES Indonesia)
Perjalanan Kopi Arbilest sendiri bermula dari pengalaman pribadi Aris saat menghadapi keterpurukan finansial. Ketika mencari ketenangan di kawasan hutan, ia menemukan varietas kopi Typica liar, salah satu jenis Arabika tertua yang tumbuh alami.
“Saya sempat bangkrut hingga miliaran rupiah sebelum bangkit berkat kopi,” ungkap Aris, Rabu (6/5/2026) lalu.
Pengalaman itu kemudian mendorongnya membangun kelompok tani Arabika Lestari atau Arbilest pada 2016. Bersama para petani lokal, ia mengembangkan budidaya kopi secara serius. Namun, perjalanan tersebut tidak mudah. Para petani membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk mencapai fase stabil.
Eksperimen fermentasi anaerob juga berlangsung panjang. Ketekunan para petani akhirnya membuahkan hasil dengan kualitas kopi premium yang memperoleh skor di atas 80 dari Specialty Coffee Association of America (SCAA) dengan kategori excellent.
Kualitas tersebut menarik minat pembeli dari luar negeri. Demi menjaga mutu rasa, petani menerapkan metode petik merah dan pengawasan ketat pada proses pascapanen. Biji kopi cacat akibat serangan hama langsung dipisahkan, sementara proses sortasi dilakukan secara manual.
Selain kualitas produksi, faktor cuaca di lereng gunung menjadi tantangan tersendiri. Curah hujan tinggi sering memperlambat proses penjemuran alami sehingga pekerja harus memastikan tingkat kelembapan biji tetap berada pada kondisi ideal.
Tak hanya fokus pada produksi kopi, Arbilest juga mengembangkan wisata edukasi berbasis perkebunan. Pengunjung dapat melihat langsung proses budidaya kopi hingga menikmati suasana alam di kawasan kebun.
Program edukasi bahkan melibatkan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD). Anak-anak diajak mengenal tanaman kopi secara langsung sebagai upaya memperkenalkan potensi pertanian lokal sejak dini.
“Generasi muda harus menyadari potensi lokal yang dimiliki. Dengan memperkenalkan kopi sebagai komoditas unggulan, roda ekonomi masyarakat dapat terus bergerak,” kata Aris.

Guru PAUD Al Kindi Resapombo, Siska Sunarti, menilai kegiatan tersebut memberi pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak.
“Anak-anak sangat antusias menyentuh daun kopi dan melihat rusa secara langsung,” ujarnya.
Area wisata edukasi Kopi Arbilest juga memadukan perkebunan dengan peternakan satwa. Pengunjung dapat menikmati kopi hangat sambil berinteraksi dengan Rusa Totol India yang berada di kawasan wisata.
Kehadiran wisatawan turut membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. Sejumlah ibu rumah tangga mulai menjajakan sayuran organik dan hasil kebun kepada pengunjung.
Bagi Aris, kopi bukan sekadar komoditas dagang. Ia mengajak penikmat kopi menikmati seduhan tanpa gula agar karakter rasa asli lebih terasa.
Menurutnya, perpaduan rasa pahit, asam, dan manis dalam kopi menjadi gambaran perjalanan hidup manusia yang tidak selalu berjalan mulus. Filosofi itulah yang terus dibawa Arbilest dalam mengembangkan kopi lokal dari lereng Blitar menuju pasar dunia. (*)
PEWARTA : Abimanyu Satrio Widodo
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

