Fong An, Seniman Rock Art Asal Blitar yang Karyanya Diburu Kolektor Internasional
TIMES Blitar/Fong An ketika menggelar pameran di Matos dalam acara Perayaan Imlek 2026. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

Fong An, Seniman Rock Art Asal Blitar yang Karyanya Diburu Kolektor Internasional

TIMES Blitar,Jumat 20 Februari 2026, 16:12 WIB
7.1K
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

MALANGFong An, lelaki berusia 81 tahun asal Blitar ini telah menggeluti dunia rock art sejak muda. Dirinya membuktikan bahwa karya dari daerah kecil dapat menembus pasar internasional. 

Pria kelahiran Oktober 1945 tersebut konsisten melukis di atas batu selama puluhan tahun. Hal ini bermula ketika dulu ia tidak bisa melihat kertas nganggur dan tidak terpakai, akhirnya ia coba untuk melukis dan ketagihan. 

“Dulu pas kecil saya ga suka lihat kertas nganggur, saya coba coret coret eh kok asik dan ketagihan,” ujarnya saat diwawancarai di Matos dalam acara Perayaan Imlek, Minggu (15/2/2026) lalu.

Jarak rumah yang tidak terlalu jauh dari pantai membuatnya sering bermain di sana.

article

Suatu saat, Fong An menemukan batu serta karang kemudian ia kumpulkan. Fong An tertarik untuk mencoba melukis di batu tersebut. 

Karya Rock Art Fong banyak diminati kolektor luar negeri, khususnya dari Amerika Serikat. Menurutnya, di Indonesia masih jarang seniman rock art, maka dari itu ia bergabung dengan komunitas rock art di luar negeri.

Sejak saat itu, dirinya mulai memasarkan rock art miliknya di media sosial instagram @kefengan.

Dalam prosesnya, Fong An tidak asal memilih batu untuk dipakai media lukisannya. Ia menyesuaikan bentuk batu dengan konsep gambar yang akan dibuat. Batu kali maupun batu laut menjadi media utamanya.

Batu tersebut terlebih dahulu dihaluskan menggunakan amplas atau gerinda. Setelah itu, ia melapisinya dengan semen putih agar permukaan lebih rata dan mudah dilukis. Beberapa batu juga dipasangi kaki penyangga dari karang yang direkatkan menggunakan lem khusus. 

“Kalau batu itu tidak rata, jadi tantangannya lebih sulit dibanding melukis di kertas. Misalnya menggambar kumis, itu paling susah karena permukaannya timbul-tenggelam,” ujarnya.

Awalnya ia menggunakan cat akrilik, tetapi cepat kering. Akhirnya Fong An menggantinya dengan poster colour yang dinilai lebih fleksibel. Untuk lukisan dengan ukuran kecil, Fong An bisa menghasilkan tiga lukisan dalam sehari. 

“Ini juga tergantung konsentrasi, tiap orang beda-beda durasi konsentrasinya,” imbuhnya. 

Meski karyanya diminati oleh dunia internasional, nyatanya Fong An mengaku tidak pernah mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah setempat. Ia menilai perhatian terhadap seni masih minim.

Maka dari itu, ia sering menggelar pamerannya di daerah-daerah yang melek akan seni, salah satunya Kota Malang. 

Ia pun berharap masyarakat Indonesia mulai menghargai seni sejak dini, baik melalui pendidikan maupun kegiatan kreatif lainnya.

“Kalau orang sudah suka seni, ide-ide akan bermunculan. Mereka akan melihat semua hal itu indah. Hidup terasa lebih indah,” pesannya di akhir wawancara. 

Selain seorang seniman, Fong An juga seorang fisioterapis untuk berbagai jenis penyakit. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Kabupaten/Kota Blitar, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.