Ngaji Aswaja Ramadan di UNU Blitar, KH Ma’ruf Khozin Jelaskan Dasar Tradisi NU
UNU Blitar menggelar Ngaji Aswaja Ramadan 1447 H dengan menghadirkan KH Ma’ruf Khozin dari Aswaja Center PWNU Jawa Timur untuk menjelaskan dasar dalil tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.
BLITAR – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar kegiatan Ngaji Aswaja Ramadan 1447 Hijriah di Aula Lantai 3 Kampus I UNU Blitar, Minggu (8/3/2026). Kegiatan ini diikuti dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan sebagai bagian dari penguatan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di lingkungan civitas akademika.
Forum keilmuan tersebut mengusung tema “Ngaji Aswaja: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban” dengan menghadirkan Direktur Aswaja Center PWNU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, sebagai narasumber utama.
Ketua panitia kegiatan, Wijianto, menyampaikan bahwa Ngaji Aswaja Ramadan merupakan salah satu komitmen UNU Blitar dalam menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, terutama kepada mahasiswa. Menurutnya, pendidikan di perguruan tinggi Nahdlatul Ulama tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga memperkuat tradisi keilmuan yang memiliki sanad kepada para ulama.
“Di UNU Blitar, kuliah bukan sekadar mengejar gelar sarjana, tetapi juga menyambungkan diri dengan tradisi keilmuan para ulama. Dengan memegang teguh Aswaja An-Nahdliyah, kita terhubung dengan sanad ilmu yang panjang hingga kepada Rasulullah SAW,” ujar KH Ma’ruf Khozin.
Sementara itu, Wakil Rektor I UNU Blitar, Dr. Muhamad Fatih, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap forum Ngaji Aswaja dapat memperkuat pemahaman keislaman mahasiswa sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan para ulama di lingkungan kampus.
Usai sambutan tersebut, ia secara resmi membuka kegiatan Ngaji Aswaja Ramadan 1447 H.
Dalam pemaparannya, KH Ma’ruf Khozin menjelaskan bahwa berbagai tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama bukanlah praktik tanpa dasar. Tradisi tersebut memiliki landasan dalil dalam syariat Islam sekaligus menjadi cara para ulama menyampaikan nilai-nilai agama kepada masyarakat.
Ia mencontohkan tradisi tingkeban, yakni doa bersama bagi ibu yang sedang mengandung agar bayi yang akan lahir menjadi pribadi saleh, berilmu, dan taat beribadah. Selain itu, ia juga menyinggung praktik mengumandangkan adzan di telinga bayi yang baru lahir, sebagai doa agar kalimat tauhid menjadi suara pertama yang didengar seorang anak saat memasuki kehidupan.
Menurutnya, tradisi-tradisi tersebut merupakan bentuk pengamalan ajaran Islam yang hidup dalam budaya masyarakat, namun tetap memiliki dasar dalam syariat.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para peserta terlihat antusias mengikuti diskusi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait praktik amaliah yang berkembang di masyarakat serta dalil yang melandasinya.
Melalui kegiatan ini, UNU Blitar berharap tradisi mengaji dan diskusi keilmuan terus berkembang di lingkungan kampus, sekaligus memperkuat pemahaman Aswaja di kalangan mahasiswa dan civitas akademika. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



