Barista Blitar Bawa Robusta Lokal Berjaya di Indonesia Green Coffee Competition 2026
Barista asal Blitar, Ahrian Festyananda berhasil membawa Robusta lokal Blitar berpreatasi dalam ajang Indonesia Green Coffee Competition 2026.
BLITAR – Nama Ahrian Festyananda tak asing lagi bagi para pemain kopi di Blitar. Apalagi, barista muda ini berhasil membawa Robusta lokal Blitar meraih Juara 2 di ajang Indonesia Green Coffee Competition 2026.
Indonesia Green Coffee Competition 2026 merupakan salah satu ajang seleksi kualitas green bean paling bergengsi di Indonesia. Event ini digagas oleh pusat sekolah prosesor, industri kopi hulu hilir, Wiliam Edison (WE). Event tahun ini dalam rangkaian WE Kopi Kolaborasi Season 6.
Kompetisi ini mempertemukan nano lot terbaik dari berbagai daerah dengan sistem penilaian berstandar internasional. Ajang ini dirancang sebagai wadah evaluasi, pembinaan, dan promosi kopi Nusantara melalui proses seleksi yang transparan dan profesional.
Seluruh peserta harus melalui tahapan administrasi yang ketat, mencakup legalitas, asal-usul green bean, varietas, ketinggian lahan, metode pascapanen, serta standar pengemasan sampel. Dari ratusan pendaftar, hanya 73 peserta yang dinyatakan lolos dan berhak melanjutkan ke tahap berikutnya.

"Jadi semua peserta mengirimkan sampel green bean. Lalu di sesi wawancara 45 menit, dia harus bercerita proses, kemudian foto open camera, dan menunjukkan peta koordinat kebun," papar Rian, panggilan akrabnya, Sabtu (7/1/2026).
Rian mengirimkan sampel Robusta lokal Selorejo Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dia menggunakan metode proses Honey Anaerobic. Metode ini menggabungkan fermentasi tertutup tanpa oksigen dengan pengeringan bermucilage sebagian, yang menghasilkan sweetness alami, body tebal, dan aftertaste panjang.
Dalam proses ini, kopi Robusta milik Rian menunjukkan karakter rasa yang stabil, bersih, dan kompleks, sehingga mampu memperoleh skor tinggi secara konsisten.
"Sampel yang saya kirim termasuk dalam jajaran terbaik yang memenuhi seluruh persyaratan mutu dan ketertelusuran," ujar Ketua Asosiasi Kopi Blitar Raya ini.
Setelah lolos seleksi administrasi, seluruh sampel diproses melalui roasting terstandar oleh roaster terpilih dengan sistem blind sample, sehingga identitas peserta tidak diketahui oleh juri. Proses ini bertujuan menjaga objektivitas, menghindari bias, serta memastikan karakter asli kopi tampil secara maksimal.
Penilaian kategori Robusta dilakukan oleh panel juri lintas negara yang dipimpin oleh Johan Kwe sebagai Head Judge. Serta didukung oleh juri dari Singapura, Hong Kong, China, Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Sistem multi-panel dan cross-check score diterapkan untuk menjaga akurasi, transparansi, dan kredibilitas hasil kompetisi.
Tahap puncak kompetisi dilakukan melalui proses cupping dan judging oleh panel juri internasional dan nasional. Penilaian mengacu pada standar Specialty Coffee Association (SCA) dengan parameter aroma, flavor, acidity, body, balance, sweetness, aftertaste, clean cup, dan overall impression. Setiap sampel diuji dalam beberapa sesi untuk memastikan konsistensi hasil.
"Pada kategori Robusta, kopi saya berhasil meraih Juara 2 (Gold Winner) dengan skor 82,80," katanya dengan bangga.
Menurut Rian, prestasi ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan kopi Robusta Blitar. Sekaligus menegaskan, bahwa kopi lokal mampu berdaya saing dan terus berjaya di tengah kompetisi nasional maupun global. Prestasi ini membawa dampak strategis bagi pengembangan kopi Blitar.
Selain memperkuat citra daerah sebagai penghasil Robusta berkualitas, capaian ini juga meningkatkan daya tawar petani, membuka akses pasar lebih luas. Serta mendorong transfer pengetahuan pascapanen kepada komunitas kopi lokal.
"Keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi pascapanen mampu meningkatkan nilai tambah kopi Robusta lokal. Sehingga menjadikannya mampu bersaing dengan daerah penghasil kopi unggulan lainnya di Indonesia," tandasnya.
Selama ini, Rian secara aktif membina petani, prosesor, roaster, dan barista melalui program pendampingan, pelatihan, dan pengembangan kompetensi. Pembinaan tersebut mencakup budidaya berkelanjutan, fermentasi modern, quality control, sensory evaluation, hingga kewirausahaan kopi berbasis ekonomi kreatif.
Melalui pendekatan ini, pengembangan kopi Blitar dilakukan secara sistemik dari hulu hingga hilir, sehingga mampu menciptakan ekosistem kopi yang berdaya, mandiri, dan berkelanjutan. Prestasi ini merupakan bagian dari visi jangka panjang membangun kopi daerah.
“Penghargaan ini bukan tujuan akhir, tetapi pijakan untuk membangun sistem kopi Blitar yang berdaya, mandiri, dan berjaya bersama petani dan pelaku usaha lokal,” ujarnya.
Ke depan, ia berkomitmen mengembangkan pusat pascapanen terpadu, memperluas pendampingan petani, meningkatkan sertifikasi kompetensi, membangun brand kopi daerah, serta memperkuat peran ekonomi kreatif berbasis kopi di tingkat regional maupun nasional.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



